Jumat, 15 Juni 2012

CARA MEMBACA CEPAT


Cara Cepat Membaca CepatSaat ini, kita dihadapkan pada arus banjir informasi yang tidak dapat dicegah.Coba lihat, jumlah daftar buku, artikel,koran dan majalah baru yang terbit sepertinyatidak ada habisnya. Konsekuensinya,..hm..anda akan dicap “gagap informasi” kalaumemilih tidak mau berurusan dengan informasi baru. Jadi ? Cara yang paling bijak adalahterapkan pola membaca cepat. Dan mulailah melatih dengan kebiasaan baru ini.
Jangan Membaca Per Kata
Tahukan anda bahwa mata kita hanya menangkap informasi ketika berhenti bergerak.Sehingga pada waktu kita membaca, apabila kita merasa mata kita tidak pernah berhentibergerak sama sekali ketika membaca adalah perasaan yang keliru. Karena sebenarnyaketika membaca, mata kita mengalami beberapa jeda. Yaitu bergerak- stop- membaca-bergerak-stop-membaca dst. Tidak percaya? Anda bisa membuktikan teori ini denganduduk berhadap-hadapan dengan orang yang menghadap buku dan cobalah perhatikangerakan mata mereka. Gerakan mata mereka pasti memiliki pola yang sama dengan teoridiatas. Sehingga bisa disimpulkan bahwa
kunci membaca cepat adalahmeminimumkan jumlah gerakan mata berhenti dan pada saat yang samamemaksimumkan jumlah kata yang terbaca dalam setiap satu putaran gerakanmata.
Ada beberapa kelompok cara membaca. Pola pertama adalah ketika membaca, satuhalaman buku, umpamanya, mata pembaca mencari dan membaca satu persatu katadalam satu halaman tersebut. Sedangkan pola kedua adalah pembaca mengelompokkankata dalam satu grup. Dan pola baca ketiga adalah menyadari bahwa sebenarnya dalamsatu halaman buku itu hanya akan terdapat beberapa bagian kunci saja yang berguna bagipembaca sehingga ketika membaca, matanya melakukan gerakan cepat atau diistilahkandengan “scan” halaman buku tersebut baik dengan cara vertikal ataupun horisontal padasaat yang bersamaan.Anda pasti akan memprotes teori ini dengan mengklaim bahwa pembaca cara pertamapasti akan lebih menguasai material bacaan dibandingkan dengan pembaca cara ketiga.Suatu pernyataan yang masuk akal. Namun, ceritanya akan menjadi berbeda apabila kitadiharuskan membaca tiga buah buku dalam waktu semalam!!!. Anda pasti sudah akanlelah luar biasa begitu menyelesaikan membaca beberapa bab dari buku pertama.Sehingga cara membaca yang paling bijaksana adalah dengan mengkombinasikan ketigapola baca tersebut. Caranya adalah pertama dengan menggunakan pola baca ketiga untuk menemukan informasi yang dicari dan selanjutnya menggunakan cara baca kedua danpertama untuk lebih memahami bagian yang penting tersebut. Dengan cara ini makaenergi kita ketika membaca hanya dihabiskan untuk bagian –bagian yang paling bergunasaja dari bacaan tersebut.Namun merubah kebiasaan pola baca pertama ke pola baca kedua dan ketigamengharuskan kita untuk merubah strategi membaca visual kita. Artinya kita harusmenghentikan kebiasaan “mengucapkan bacaan kembali dalam hati” dan mencoba untuk “mempercayai gerakan mata”. Apakah ini susah ? Sebenarnya tidak. Perubahan caramembaca bisa sukses kalau kita juga merubah proses mental kita pada waktu membacadari “ melihat - > mengucapkan -> mengerti” menjadi hanya “ “melihat ->mengerti”.Cara paling cepat untuk menghentikan kebiasaan “mengucapkan bacaan dalam hati “adalah dengan meningkatkan kecepatan membaca sedemikian rupa sehingga tidak dapatdiucapkan kembali dalam hati. Hal ini berarti kita merubah strategi cara kita membaca

PENGERTIAN MEMBACA SKIMMING


Membaca Skimming

    Pengertian

Membaca-layap (skimming) adalah membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum atau bagian suatu bacaan. (Farida Rahim, 2005). Membaca layap dibutuhkan untuk mengetahui sudut pandang penulis tentang sesuatu, menemukan pola organisasi paragraf, dan menemukan gagasan umum dengan cepat (Mikulecky & Jeffries dalam Farida Rahim, 2005).

Pengertian lain dari membaca skimming adalah membaca sekilas atau membaca cepat untuk mendapatkan suatu informasi dari yang kita baca. Skimming dilakukan untuk melakukan pembacaan cepat secara umum dalam suatu bahan bacaan. Dalam skimming, proses membaca dilakukan secara melompat-lompat dengan melihat pokok-pokok pikiran utama dalam bahan bacaan sambil memahami tema besarnya.

Selain untuk mendapatkan gagasan utama dari sebuah teks. Untuk mengetahui apakah suatu artikel sesuai dengan apa yang kita cari. Untuk menilai artikel tersebut, apakah menarik untuk dibaca lebih lanjut secara mendetail. Kecepatan membaca secara skimming biasanya sekitar 3-4 kali lebih cepat dari membaca biasa.

2. Langkah-langkah Skimming

    Baca judul, sub judul dan subheading untuk mencari tahu apa yang dibicarakan teks tersebut.
    Perhatikan ilustrasi (gambar atau foto) agar Anda mendapatkan informasi lebih jauh tentang topik tersebut.
    Baca awal dan akhir kalimat setiap paragraph
    Jangan membaca kata per kata. Biarkan mata Anda melakukan skimming kulit luar sebuah teks. Carilah kata kunci atau keyword-nya
    Lanjutkan dengan berpikir mengenai arti teks tersebut

CERPEN


Berlatih menjadi bidadari
Oleh Nurul F. Huda

Telah datang seorang "pangeran" dalam hidupku yang mengubah status saya menjadi seorang istri. Perubahan yang sampai saat ini masih terasa gamang, karena menuntut banyak perubahan yang lain. Segala urusan rumah tangga harus saya tangani: dari yang sepele, seperti menyediakan minum, sampai yang saya tidak suka, mencuci. Iya lho. Saat masih sendiri saja, saya ogah-ogahan. Pertama kali saya mencucikan bajunya, saya merasa terbebani. Tapi sekarang, jika dua hari tidak mencuci, bisa-bisa suami saya ke kantor dengan baju yang tidak sedap dilihat. Maklum, seragam dari PT cuma dua stel dan kerjanya 12 jam!

Alhamdulillah, saya mulai menikmati pekerjaan yang lain. Memasak dan bersih-bersih misalnya. Saya hanya mencoba berpikir tentang sosok Fatimah Az Zahra, sambil menyemangati diri bahwa ini ibadah. Ada konteks amanah dan amal di sana. Maka bismillah, dan saya pun mencuci, memasak, bersih-bersih... begitu seterusnya. Hal lain yang ingin saya bahas lebih panjang adalah soal kekuasaan suami yang baru saya sadari memang besar. Seorang teman laki-laki yang sudah saya anggap adik kandung selama ini kami biasa ngobrol, diskusi dan tukar hadiah perlu minta izin pada suami saya untuk sekedar bicara pada saya. Di akhir pembicaraan ia berpesan, "Sekarang aku nggak bisa seenaknya menemuimu. Yah, but I'm still your little brother.. little brother. That's all' Apa-apaan ini? Bukankah selama ini dia memang adik saya? Tapi rasanya dia ingin
mengatakan, kamu punya sesorang yang more than just brother, yang lebih berhak atasmu. Seketika itu saya mulai merasa kehilangan.

Di saat lain Abah saya berpesan, bahwa meskipun penghasilan saya adalah hak saya sepenuhnya, tetaplah minta izin dalam penggunaannya.'Meski saya gunakan untuk keluarga (saya)? kejar saya waktu itu. Abah mengangguk, "Ya. Meskipun uang itu kamu berikan kepada kami ... ..Satu hal lagi yang paling membuat saya sadar betapa posisi suami saya luar biasa adalah ketika perpisahan di stasiun, saat kami hendak menempuh jarak Jakarta-Batam. Abah memberikan sejumlah uang. Saya ingin memberikan uang ini pada anak saya, boleh?"tanya Abah. Suami saya tidak bisa berkata lain kecuali mengangguk. Bayangkan! Memberi uang saja Abah minta izin dulu. Seketika saya berpikir, kalau Abah saja, yang selama ini bukan hanya ayah, tapi juga guru saya, menghargai keberadaan suami saya seperti itu... apalah lagi saya? Sungguh,
itu bukan hal yang mudah saya telan. Saya harus mengunyahnya pelan-pelan, menelan sedikit-sedikit dengan sesekali nyangkut di tenggorokan, dan terkadang dengan rasa pahit ketika melewati kerongkongan. Kadang timbul pikiran nakal, kenapa Allah menganugerahkan "kekuasaan" pada laki-laki sekaligus sense" kekuasaan" itu sendiri?

Ah, saya seorang muslimah. Bukankah ketika saya berharap ridho-Nya, saya harus melewati ridho suami? Lagi-lagi saya harus menyemangati diri bahwa ketaatan saya padanya adalah bagian dari ketaatan saya padaNya. Apalagi dia, insya Allah, datang benar-benar karena kekuasaan-Nya dari hasil istikharah saya berdasarkan dua hal, akhlaq dan agama. Dan "kekuasaan" itu pun mulai saya rasakan sekarang. Suami saya anak pertama plus ketua di beberapa lembaga dakwah. Menurut saya, dia punya kecenderungan otoriter yang besar. Bukan hanya gayanya, tapi juga caranya. Saya juga anak pertama dan mantan ketua di beberapa kali kepengurusan lembaga dakwah. Wajar kalau sering keluar bandelnya.Ngeyelan istilah orang Jawa. Tapi ujung-ujungnya saya cium tangannya dan bilang, Mas harus maklum dong. Dede' kan terbiasa jadi leader, dan anak buah Dede' banyak yang laki-laki. Eh, sekarang Dede' harus menurut pada seorang laki-laki.". Tentu saja dengan nada merayu dan merajuk. Biasanya dia hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. (Maklumlah, dengan Abah pun saya biasa diskusi, bargaining, bukan "diperintah". Juga sparing partner yang kebanyakan putra. Eh, tennyata  sekian tahun melanglang buana di berbagai lembaga dakwah kampus... saya
belum pernah sekalipun bergabung di bidang keputrian. Lengkaplah sudah fasilitas saya untuk merasa sejajar dengan pria)

Ternyata Allah mempertemukan saya dengan seseorang yang membuat saya melihat
dengan mata hati, perasaan, bukan sekedar rasionalitas dan sentimen keperempuanan saya. Suami saya menyuruh saya mengubah penampilan: jilbab yang saya pakai diperbesar. Kondisi Batam beda dengan Yogya, De: Ha?! Bahkan untuk urusan sekecil ini pun harus diatur? Tapi toh akhirnya saya menurut juga. Apalagi ketika dia menjelaskan bahwa dia hanya tidak ingin ada sesuatu yang tidak mengenakkan menimpa saya di sana. Deu, jadi terharu. Suami saya menyuruh mengurangi ketawa-ketiwi (yang saya memang hobby). Dede' sudah ummahat lho. Jaga wibawalah. Aduuh... emangnya ummahat nggak boleh ketawa-ketiwi, ya? Pun soal interaksi dengan non mahram (saya terhitung moderat untuk urusan satu ini). Bukan hanya dengan "adik-adik" saya, tapi juga partner kerja dalam kepenulisan maupun organisasi. Ada lagi. Soal identitas diri. Di beberapa hari usia pernikahan kami, saya selalu bilang, 'Aku tetap Nurul F Huda, hukan Nyonya Purwanto.Ya... selama ini saya merasa cukup yakin membangun eksistensi. Tapi begitu tiba di Batam, setiapkali bertemu teman baru, ujung-ujungnya, 'Ini lho istrinya Pak Pur!"(meski saya sudah menyebutkan "nama beken" saya!) Begitulah sampai saat ini. Eh, lagi-lagi saya mulai menyukainya. Apalagi rasa-rasanya buku saya lebih laku di Batam karena menikah dengannya.

Anak buahnya di Majelis Ta'lim ternyata punya sentimen terhadap istri "bapaknya". Jadi ketika sekarang ini saya dikenalkan dengan orang, 'Ini mbak Nurul..'dan orang menyahut dengan,'Oo..Mbak Nurulnya Pak Pur?"saya akan tersenyum sampai ke dalam relung hati saya. Suami saya juga seorang supporter yang luar biasa. Dia yang  mengejar-ngejar saya untuk menulis lagi. Yah, sejak menikah saya memang agak pemalas. Entah kenapa. Ayo... kok nggak produktif De; bukunya di Counter Fatahillah udah habis, (dia memang sering ngecek kalau mampir ke Plaza Batamindo, di daerah Muka Kuning, tempat dia kerja). Juli mau cetak ulang, lho (buku saya terbit April lalu). Wah, laris juga ya. Ayo dong FLP-nya diurusin, telpon lah ke Riau (FLP Batam memang macet, dan salah satu orientasi dia menikah dengan saya memang  menghidupkan dakwah tulisan di Batam, lewat FLP terutama). Katanya mau release di sini, ntar tak bantuin acaranya dan nyari sponsor deh. Gimana Dede' ini.. skripsinya kok
nggak selesai-selesai (terutama kalau saya sudah mulai "lupa" dan hanya ribut soal naskah). Nah, tulisan ini adalah hasil paksaan dia. Ya... saya harus belajar menulis sesuatu yang lain, bukan? Selain cerita seperti yang selama ini saya lakukan. Tapi saya pikir-pikir.. jangan-jangan itu juga bagian dari bentuk nyata praktek"kekuasaannya?':
Herannya, saya susah untuk menolak, tuh. Kenapa ya? Lalu saya mencoba mencari sebabnya. Perasaan. Ya, kekuatan itulah yang berhasil memaksa saya menjadi orang yang menurut, mau diatur, tidak banyak menolak... de el el. Perasaan bahwa dia adalah orang terdekat saya, bahwa apa yang dia lakukan adalah bentuk pengejewantahan rasa tanggungjawab dan cintanya pada saya. Perasaan saya juga yang mengatakan tidak ada yang dia inginkan selain kebaikan buat saya.

Begitulah. Ah, saya jadi ingat 'adik' saya, Aga itu, "Kamu tuh sebetulnya ngeyelan juga, Mbak Tapi.. apa perempuan begitu ya? Dia akan mengalah pada orang yang dekat dengannya (berhasil mendekatinya). " Yah... barangkali itulah yang sekarang terjadi pada saya. Saya sedang benar-benar jadi perempuan. Dia memang hampir tidak pernah memuji saya, tapi saya tahu dia bangga pada saya. Belakangan dia suka keceplosan cerita saat bicara dengan teman-temannya. Wah, Bidadarinya sukanya warna biru.. enak lho, ada sarapan dan seorang Bidadari yang menemani Sekarang bukan bayangan Bidadari, tapi sudah jadi Bidadari. Dia juga belum pernah bilang I love you. Tapi saya yakin dia care. Yah, meski saya agak kesal karena dia belum juga menamatkan buku 'Bayangan bidadari' yang saya hadiahkan saat kami menikah. Tapi itulah suami saya.
Dan saya harus mengakui...,banyak hal dari makhluk Allah yang satu ini yang membuat saya merasakan arti hidup dan kesyukuran. Sesuatu yang seperti saya sebutkan di atas, membuat saya merasa dekat dengannya.

Suamiku, pangeranku, ajari aku untuk menjadi benar-benar bidadarimu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Karena sekali lagi... Dede' benar-benar baru belajar untuk menjadi seorang istri. Lebih-lebih istri yang barangkali terbayang dalam benak Mas selama ini.


PENGERTIAN PEMBANGUNAN NASIONAL


Pembangunan nasional yang diselenggaraan dewasa ini merupakan apresiasi dari penyelenggaraan pembangunan di setiap daerah. Pembangunan yang diselenggarakan dalam era otonomi daerah saat ini tidak lepas dari semangat proklamasi dan perjuangan bangsa yang mengendaki adanya pemerataan pembangunan di segala bidang. Hal tersebut terimplementasi melalui program-program pembangunan fisik dan non fisik.
Pembangunan fisik dilaksanakan untuk menyediakan berbagai saranan dan prasarana umum yang dibutuhkan oleh masyarakat seperti gedung, jalan, pasar, dan infrastruktur lainnya.Sementara itu pembangunan non fisik sangat identik dengan pemberdayaan masyarakat melalui pemulihan status sosial ekonomi masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.
Isu yang muncul terkait dengan otonomi daerah adalah bagaimana kemampuan Pemerintah Daerah dilihat dari sumber daya manusia aparatnya mampu mewadahi aktivitas pemerintahan, pelayanan publik, dan pembangunan. Banyak Daerah yang mengakui bahwa kemampuan sumber daya manusia aparaturnya masih perlu ditingkatkan ( Dwiyanto,2003:36 ) . Pemerintah akhir–akhir ini memberikan perhatian yang besar pada upaya-upaya peningkatan kemampuan aparatur dalam melaksanakan tugas-tugasnya, yakni memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada rakyat sesuai perannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Upaya-upaya tersebut dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan baik yang bersifat struktural ataupun yang bersifat fungsional. Pendidikan dan pelatihan saja tidaklah cukup, diperlukan adanya pembinaan dan motivasi kerja aparatur untuk menumbuhkan meningkatkan kinerja aparatur yang kuat dalam rangka meningkatkan prestasinya.
Keberhasilan pembangunan nasional sangat ditentukan oleh keberhasilan aparatur negara dalam melaksanakan tugasnya. Terutama dari segi kepegawaian. Oleh karena itu aparatur pemerintah memiliki peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai motor dan penggerak dalam semua aktivitas fungsi pemerintahan selaras tuntutan reformasi yang menuntut pemerintahan yang bersih dari perbuatan amoral ( Tjokroamidjoyo dalam Suharto,2002 : 7 ).
Peningkatan kemampuan aparat menjadi penting mengingat perubahan arah kebijakan pemerintah sebagaimana dikehendaki oleh semangat reformasi untuk lebih luas memberi ruang gerak dan peran serta yang lebih besar bagi masyarakat dalam kegiatan pemerintahan dan pembangunan, dimana pemerintah beserta aparaturnya lebih berperan sebagai fasilitator. Perubahan arah kebijakan ini membawa implikasi terhadap kemampuan profesionalisme pegawai dalam menjawab tantangan era globalisasi dalam menghadapi persaingan ketat dengan negara – negara lain di dunia.

PENGERTIAN TAQWA


Iman Dan Ketaqwaan
Istilah dan penggunaan kata taqwa selalu diawali atau bergandengan dengan kata ”iman”, seperti surat Ali Imran/3:102 di atas, juga perintah puasa.[4] Ini menunjukkan bahwa orang bisa melaksanakan ketaqwaan karena atas dasar keimanannya. Sehingga, dalam konteks ketaqwaan inilah maka kita bisa memahami, mengapa keimanan sesorang bisa bertambah dan berkurang. Untuk itu, dengan beriman dan bertaqwa, Allah menjanjikan hilangnya ketakutan dan kekhawatiran untuk melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya. Dalam surat Al-Anfaal/8:29 ditegaskan Allah :

”Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
Juga, dalam surat Al-Baqarah/2:58 menegaskan :

”Kami berfirman : tinggalkan keadaan seperti ini, sesungguhnya akan datang kepada kamu petunjuk dariKu. Barangsiapa mengikuti petunjukKu, akan lenyap segala ketakutan dan tak ada pula kesusahan.”
Karena keimanannya itu, maka dalam An-Naba/78:31 Allah berfirman :

”Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan”
Ketakutan, sebagaimana terhadap kelaparan dan kehilangan harta, jiwa, dan lain sebagainya, yang dinyatakan dalam Alqur’an surat Al-Baqarah/2:155[5], sebagai cobaan bagi orang-orang yang mampu bersikap sabar. Ada 12 ayat yang menyatakan hal seperti itu dengan kasus yang berbeda. Dalam Alqur’an surat al-A’raf/7:35 malahan dinyatakan bahwa keadaan seperti itu, yaitu tiadanya suasana ketakutan dan kesengsaraan :

“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Terdapat pula orang-orang yang bertaqwa dan berbuat baik, misalnya, melakukan shadaqah, menghindarkan diri berkata yang menyakitkan hati orang dan mengucapkan kata-kata yang manis, seperti terdapat dalam surat Al-Baqarah/2:262 :

”Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Maka, orang yang bertaqwa (muttaqin), adalah orang yang selalu menjaga dirinya dari perbuatan dosa dengan satu pedoman dan petunjuk Alqur’an sehingga bisa mengembangkan kemampuan rohani dan kesempurnaan diri. Mirza Nashir Ahmad dalam terjemahan the Holy Qur’an-nya, menyebut orang yang bertaqwa adalah orang yang memiliki mekanisme atau daya penangkal terhadap kejahatan yang bisa merusak diri sendiri dan orang lain.[6] Sementara, dalam ayat lain muttaqin menunjukkan kepada orang bijak, soleh, jujur, dan bertanggung jawab. Dalam surat Al-Maidah/5:93 ditegaskan :

”Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Perintah Allah berbuat baik dan menjauhi larangan, adalah sejalan dengan potensi yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya : ”sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” [7],sehingga memiliki kemungkinan-kemungkinan yang besar untuk maju dan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya : ”Tiap-tiap orang bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya” [8].
4. Beberapa Ciri-ciri Orang Bertaqwa Dalam Alqur’an
Berdasarkan beberapa ayat Alqur’an, ada beberapa ciri orang bertaqwa, diantaranya : 1) beriman dan meyakini tanpa keraguan bahwa Alqur’an sebagai pedoman hidupnya[9]; 2) beriman kepada perkara-perkara yang gaib; 3) mendirikan sembahyang; 4) orang yang selalu membelanjakan sebahagian dari rezeki yang diperolehnya[10]; 5) orang yang selalu mendermakan hartanya baik ketika senang maupun susah; 6) orang yang bisa menahan amarahnya, dan mudah memberi maaf[11]; 7) mensyukuri nikmat Allah yang telah diterimanya, karena Allah mengasihani orang-orang yang selalu berbuat kebaikan[12]; 8) takut melanggar perintah Allah[13]; 9) oleh karena itu, tempat mereka adalah surga sesuai dengan yang dijanjikan Allah, dan tempatnya tidak jauh dari mereka. [14]

LANGKAH-LANGKAH METODOLOGI


. Langkah-langkah Metodologis
Untuk bisa menjelaskan implikasi taqwa terhadap pendidikan, penulis menempuhnya melalui tiga cara, yaitu : Pertama; mengumpulkan ayat-ayat Alqur’an yang berkenaan dengan taqwa, mengelompokkan dan memberi makna berdasarkan tema, kemudian mengambil inti sari (essensi) makna taqwa. Kedua; memahami landasan filosofis, teoritis, dan hakekat pendidikan; dan ketiga, menjelaskan hubungan makna taqwa yang dimaksud dalam Alqur’an dengan yang menjadi prinsip dasar atau hakekat pendidikan. Berdasarkan tiga langkah dan alur pikir inilah penulis menyusun makalah ini.
B. Ayat-Ayat Alqur’an Yang Bertemakan Taqwa
Kata taqwa yang terulang dalam Alquran sebanyak 17 kali, berasal dari akar kata waqa’ – yaqiy yang menurut pengertian bahasa berarti antara lain, ‘menjaga, menghindari, menjauhi’ dan sebagainya. Kata taqwa dalam bentuk kalimat perintah terulang sebanyak 79 kali, ‘Allah’ yang menjadi objeknya sebanyak 56 kali, neraka 2 kali, hari kemudian 4 kali, fitnah (bencana) 1 kali, tanpa objek 1 kali. Sedangkan selebihnya yakni 15 kali, objeknya bervariasi seperti rabbakum (Tuhanmu), al-ladzi khalaqakum (yang menciptakan kamu), al-ladzi amaddakum bi ma ta’malun (yang menganugerahkan kepada kamu anak dan harta benda) dan lain-lain. Redaksi-redaksi tersebut semuanya menunjuk kepada Allah swt. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada umumnya objek perintah bertakwa adalah Allah swt. Sedangkan istilah Muttaqien adalah bentuk faa’il (pelaku) dari ittaqa suatu kata dasar bentukan tambahan (mazid) dari kata dasar waqa, yang biasanya diterjemahkan menjadi “orang yang menjaga diri untuk menyelamatkan dan melindungi diri dari semua yang merugikan”. Jadi secara keseluruhan kata muttaqien adalah menjaga diri untuk menyelamatkan dan melindungi diri dari semua yang merugikan yaitu dari kema-shiyatan, syirk, kemunafikan dan sebagainya.

Pengertian Kepemimpinan Sipil dan Militer

A.Pengertian Kepemimpinan Sipil dan Militer
kekuasaan sipil atas militer adalah sebuah doktrin dalam hubungan sipil-milter dan ilmu kemiliteran serta ilmu politik yang menempatkan tanggung jawab pembuat keputusan tertinggi stategis suatu negara berada pada tangan warga sipil pemimpin politik, bukan pada perwira militer.
Definisi: Seorang penulis Samuel.P Hangtington dalam tulisannya The Soldier and the State, menyimpulkan kekuasaan sipil yang ideal adalah pemberian kekuasaan secukupnya pada profesional militer yang kompeten pada kebijakan akhir yang ditentukan oleh penguasa sipil.
Kepentingan:Kekuasaan sipil sering kali dilihat sebagai sebuah syarat yang dibutuhkan untuk terbentuknya sebuah demokrasi liberal yang sangat baik ; Penggunaan istilah ini pada analiasa akademik umumnya berhubungan dengan negara barat yang diperintah oleh pejabat yang terpilih secara demokratis, Pada kenyataannya subordinasi militer dibawah kekuasaan sipil tidak hanya terjadi pada masyarakat tersebut. Contohnya terdapat pada kalimat Mao Zedong yang menyebutkan "Prinsip kita adalah partai memerintah senjata, dan senjata jangan pernah diizinkan memerintah partai", mencerminkan keunggulan partai komunis sebagai pembuat keputusan dalam teori marxisme-leninisme dan Maosime.
B.Catatan Kritis Hubungan Sipil-Militer di Indonesia
Dari uraian Berpijak Di Atas Bara: Kegamangan Politik TNI pada Masa Transisi tersebut setidaknya ada enam hal yang melatarbelakangi perubahan sikap politik TNI, dari mendukung Wahid, menolak, dan akhirnya mendukung kepemimpinan Megawati.
Pertama, rencana dan ancaman pengadilan kejahatan kemanusiaan oleh Pemerintahan Presiden Wahid, yang dimulai dengan mencopot Wiranto dari jabatan Menkopolkam. Meski waktu itu TNI meradang, tapi Wahid tidak cukup memiliki keberanian untuk mengadili Wiranto ke pengadilan kejahatan kemanusiaan (HAM), hanya sebatas penyidikan oleh Komisi Penyidikan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM). Justru yang kental adalah upaya sistematis dari Wahid untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa pemerintahannya mampu mengontrol militer dan kepolisian, sehingga aroma politis lebih kentara ketimbang pendekatan hukum itu sendiri. Meski begitu, kebijakan Wahid ini mampu membuat perwira TNI marah dan kecewa dengan langkah Wahid, yang bermuara pada penarikan dukungan TNI dari Pemerintahan Wahid.




Kedua, pengurangan hak istimewa kepada TNI. langkah ini memang sejalan dengan komitmen masyarakat dan kalangan politisi untuk mengurangi jumlah anggota parlemen dari Fraksi TNI/Polri dari 75 orang menjadi hanya 38 orang saja. Di samping itu juga demiliterisasi jabatan sipil yang dulu dikuasai oleh TNI menjadi bagian yang menyakitkan hati, meski dengan kebijakan pensiun dini dan alih status telah membuat kalangan perwira di TNI tidak mudah menerima. Pengurangan hak istimewa juga dilakukan oleh Wahid dengan memisahkan Polri dari Keluarga Besar TNI. Pemisahan ini jelas mengurangi wilayah dan cakupan TNI untuk berkiprah di wilayah keamanan. Sebab TNI hanya ter-plot pada urusan pertahanan semata. Tak heran apabila di lapangan seringkali terjadi bentrokan antara Polri dan TNI yang salah satu masalahnya adalah masalah pungutan liar, yang dulu bisa dibagi rata, namun kini dikuasai oleh Polri.
Ketiga, dinamika internal TNI. faksionalisasi di tubuh TNI pasca Soeharto bermuara pada adanya kelompok ABRI Merah Putih dan ABRI Hijau, namun pada perjalanan waktunya, faksi TNI berubah menjadi faksi TNI Reformis dengan faksi TNI Konservatif. Perubahan ini tak pelak membuat konflik di tubuh TNI makin meradang. Lima belas rencana perubahan yang dibuat oleh TNI juga menjadi pro kontra dalam pelaksanaanya, meskipun pada akhirnya hal tersebut berjalan namun tetap memberikan kontribusi bagi konflik yang terjadi di internal TNI. salah satu perdebatan adalah masalah tuduhan pelanggaran kemanusiaan terhadap Wiranto dan perwira yang terlibat di Timor Timur, serta penghapusan wilayah territorial, yang satu menginginkan percepatan, sedangkan yang lain merasa bahwa perubahan tersebut membutuhkan pengkajian yang matang
Keempat, intervensi yang terlalu dalam oleh Wahid ke internal TNI. Pencopotan Rusdihardjo dari jabatan Kapolri, pengangkatan Agus Wirahadikusumah menjadi Pangkostrad, serta pergantian Kapuspen Sudrajat, dan pemutasian Djaja Suparman tak pelak merupakan keinginan Wahid yang tidak diputuskan melalui Wanjakti. Dosa utama dari Wahid terhadap TNI adalah keinginannya untuk mengangkat Agus Wirahadikusumah menjadi Kasad atau pun Wakil Kasad. Sebab langkah itu dinilai sudah keterlaluan dan cenderung tidak lagi memperhatikan sistem yang telah ada dan baku di Markas Besar TNI. Sehingga, dapat dikatakan bahwa dari situlah penolakan terhadap upaya intervensi Wahid ke tubuh TNI selalu berujung kegagalan, apalagi TNI makin solid pasca penolakan tersebut
Kelima, adanya konflik antara parlemen dengan eksekutif, dalam hal ini Presiden Wahid. konflik ini dijadikan TNI sebagai upaya untuk mengkonsolidasikan diri, meskipun, langkah TNI juga kadang sering terlalu melihat dinamika perseteruan tersebut, sehingga ketika parlemen masih merumuskan apakah akan dikeluarkan Memorandum II atau tidak, TNI justru memilih kembali netral, padahal pada Memorandum I TNI secara aktif mendukung dikeluarkannya Memorandum I. Langkah TNI ini disadari betul oleh para perwiranya karena apabila berjalan sendiri, justru upaya untuk mendelegitimasikan TNI makin besar, makanya TNI lebih memilih untuk bersama-sama parlemen mencabut kembali mandat yang diberikan MPR dari Wahid untuk diberikan ke Megawati Soekarnoputri




Upaya ini jelas memberikan keuntungan bagi TNI, sebab Megawati cenderung lebih lunak dalam mendorong reformasi diinternal TNI, dengan mempercayakan perubahan tersebut kepada internal TNI sendiri.
Enam, dukungan kalangan elit politik yang kontra terhadap Wahid di parlemen. Meski masih samar-samar, namun indikasi bahwa TNI mendapat dukungan dari elit politik sipil tersebut terlihat. Ada dua indikasi yang menguatkan hal tersebut. Pertama,Unjuk rasa yang dilakukan oleh massa anti Wahid dapat masuk dengan leluasa ke Gedung DPR/MPR, sementara sejak awal telah disepakati bahwa Tni maupun yang kontra. Kedua, adanya kedekatan petinggi TNI dengan pimpinan partai politik, misalnya antara Endriartono Sutarto, Kasad, Agus Widjojo, dan Agum Gumelar, Menteri Perhubungan dan kemudian menjadi Menkopolsoskam dengan Megawati, sedangkan Wiranto, dekat dengan Slamet Effendi Yusuf, dari partai Golkar.
Enam hal yang melatar belakangi perubahan sikap politik TNI merupakan sebuah pintu bagi TNI untuk tetap menjaga peluang agar TNI tetap berkiprah dalam wilayah politik. Dalam pengertian bahwa TNI masih menginginkan tetap dilibatkan dalam pembicaraan yang menyangkut kebangsaan dan kenegaraan. Meski TNI pada akhirnya rela untuk tidak lagi mendapatkan kursi di parlemen pasca Pemilu 2004, namun masih ingin dilibatkan dalam pembicaraan yang dalam bahasa TNI adalah pelibatan TNI dalam pembicaraan tersebut juga mengurangi distorsi yang sampai kepada TNI perihal permasalahan yang sedang dihadapi.
Perubahan sikap politik TNI dari mendukung Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid ke Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri adalah sebuah realitas politik ketika itu. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa perubahan sikap politik dari mendukung Pemerintahan Wahid menjadi tidak mendukung, serta mengalihkannya ke Megawati Soekarnoputri adalah juga bukan monopoli dari TNI semata, melainkan juga dinamika politik yang terjadi saat itu. Setidaknya ada tiga point kesimpulan dari perubahan sikap politik TNI terhadap Pemerintahan sipil demokratis yang berkuasa, khususnya untuk kasus Indonesia masa pemerintahan Wahid dan Megawati.
Pertama, TNI cenderung akan mendukung kepemimpinan sipil demokratis di Indonesia yang memiliki dukungan politik yang besar dan cenderung kompromi dengan kelompok lain. Penegasan harus kompromi karena TNI cenderung melihat realitas politik pula bahwa system politik yang ada di Indonesia memiliki tingkat persaingan yang tinggi sehingga kecil kemungkinan sebuah partai politik memiliki suara mayoritas dalam pemilu.
Kedua, TNI mendukung pemerintahan sipil yang berkuasa apabila pemerintahan tersebut akomodatif dengan kepentingan TNI. Sejatinya TNI dapat memposisikan lebih baik terhadap pemerintahan sipil demokratis yang berkuasa, khususnya ke Pemerintahan Wahid,



 namun karena pada saat itu TNI tengah mengalami posisi yang dilemahkan sebagai akibat dari tumbangnya Rejim Orde Baru. Maka TNI lebih banyak membangun hubungan yang saling menguntungkan. Hal ini dapat terlihat pada Pemerintahan Megawati Soekarnoputri, di mana TNI secara respek mendukung Pemerintahan Megawati karena Megawati akomodatif terhadap TNI.
Ketiga, TNI cenderung mendukung pemerintahan sipil demokratis yang berkuasa apabila pemerintahan tersebut berprilaku jujur, terbuka dengan menerapkan asas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan pemerintahan yang baik (good government and good governance), sebagaimana harapan masyarakat. Apabila ada uapay penyelenggaraan pemerintahan yang menyimpang dari harapan masyarakat, maka TNI cenderung mengambil jarak dan perlahan mencari partner di parlemen ataupun di eksekutif , yang ujungnya akan menarik dukungannya.